Kumpulan Puisi Lengkap dan Puitis menyentuh Kalbu



'Assalamualaikum Wr.Wb



Dalam blog ini, saya akan menyajikan puisi dengan berbagai tema.
Seperti yang telah kita ketahui bahwa,
Puisi adalah bentuk karya sastra dari hasil ungkapan dan perasaan penyair dengan bahasa yang terikat irama, matra, rima, penyusunan lirik dan bait, serta penuh makna.

 Puisi mengungkapkan pikiran dan perasaan penyair secara imajinatif dan disusun dengan mengonsentrasikan kekuatan bahasa dengan struktur fisik dan struktur batinnya. Puisi mengutamakan bunyi, bentuk dan juga makna yang ingin disampaikan yang mana makna sebagai bukti puisi baik jika terdapat makna yang mendalam dengan memadatkan segala unsur bahasa.

puisi-puisi di bawah ini semua adalah murni karya-karya saya sendiri.

Langsung saja disimak 😂
Ingat undang-undang hak cipta yaaa!!
Dan jugaa, blog ini akan selalu ada pembaruan puisi-puisi baru, jadi tetap selalu kunjungi yaa 😉😉
📚📚📚
Tema Kehidupan

Kamu adalah jiwaku
Oleh : Ahlul Ahsyamul Isma
     

Di keremangan malam..
Sebongkah hati meringkuk merindukan bulan..
Merenung menelorong temaram sinarnya...
Menyelipkan jarum yang menusuk nusuk relung kalbu...
Meng ingat derita yang telah lalu..
Menciptakan rintih-rintih kepiluan , jeritan tak tertahankan...
Dua buah anak sungai mengalir tanpa kendali..
Kendali jiwa sepi menyendiri yang tersakiti..
Menyandar di bawah pohon di pinggir kali...
Memantul sinar rembulan membelah dua...
Berkecipuk kakinya membelah-belah air tuk meredakan sakitnya...
Bahunya bergetar tak tertahankan..
Sebenarnya apakah gerangam yang sedang menderanya...
Siapakah engkau wahai wanita...
Dan ia menjawab..
'Aku adalah bagian dari jiwamu sendiri wahai hawa'



Tema Persahabatan

Kisahku dan kisahmu
           Wahai sahabat..
Oleh:Ahlul Ahsyamul Isma

Riak sungai memantul dari cahaya lampu jalanan..
Gemerisik bambu bergesek-gesekan menimbulkan alunan lagu..
Angin semilir menusuk tengkuk merapatkan telapak tangan..
Dua buah insan bercengkerama di sebuah pondok di pinggir sungai..
Berceloteh ini-itu dari peristiwa yang sudah-sudah..
Mulai dari topik sekolah, artis ngetrend, sampai gambaran masa depan..


Nun jauh disana,
Tampak redup lampu kuburan menyinari nisan dibawahnya..
Menimbulkan suasana yang menggetarkan jiwa..
Sesekali bayangan gelap berkelebat di kegelapan malam..

Dua insan masih tetap ditempat..
Tak takut dengan yang terlihat karna merasa saling mengikat..
Sinar rembulan, serta gemerlapnya bintang sebagai saksi..
Saksi bahwa dua insan tuhan telah mengikat janji..
Janji kan menjalin persahabatan hingga tua nanti..
Sementara,

malam semakin redup..
Dua insan masih tetap menikmati euforia seolah tak bertemu berpuluh-puluh abad..
Sesekali bahkan berkali-kali terdengar tawa menggelegar..
Seolah suasana mencekam hilang ditelan gelap malam..
Mereka dua insan,
 dua insan yang tak dapat dipisahkan..
Yaitu persahabatan sejati..
Persahabatan sejati yang kan terjalin sampai mati..

Tema Keagamaan


Kewajiban setiap
                          Insan
Oleh: Ahlul Ahsyamul Isma

Semburat merah menghiasi langit barat..
Senja menyingsing berganti gelap..
Keok-keok burung camar bergema di sepanjang kepakan sayapnya..
Pertanda sore menjelang berganti malam..

Gema suara adzan mengelana disepanjang atmosfer udara..
Memberi perintah pada sukma tuk terlaksanakan kewajiban mulia..

Dingin air mengguyur satu persatu anggota badan ..
Mensucikan jiwa dari debu-debu kebencian dan dosa.. terlepas sudah jeratan kesesatan pengikat jiwa..
Terbebas dari belenggu-belenggu bisikan setan yang menyiksa..

Mengalir ratapan doa memohon ampunan kepada yan terMULIA..
Bersujud dihadapan Tuhan pencipta semesta..
Mengharap terbebas dari belenggu ikatan dosa..

Kini terlaksana sudah kewajiban yang utama..
Kewajiban setiap insan atas kuasa-NYA..
Yaitu perintah tuk menjalankan sholat fardhu yang lima..

Dawuhan lor

31-january-2018


Tema Persahabatan 

Ini semua tentang engkau, sahabatku.
Oleh: Ahlul ahsyamul isma. 

Aku tak mengerti,
Apa yang mengisi benakku saat ini,
Semua ini sungguh menjadi tak berarti,
Bila masa-masa yang kulalui hanyalah sepi,
Hanya engkau, dia, dan kalian yang mampu mengisi,
Mengisi relung hati pada jiwa-jiwa yang menyepi,

Ini semua tentang engkau,
Engkau yang mampu mencipta rasa,
Engkau yang mampu meledakkan tawa,
Engkau yang  mampu menjadikan jiwa ini merasakan bahagia,

Aku kini mengerti,
Apa yang menjadi bahagiaku hingga kini,
Hanya engkau sahabat,
Engkau yang selalu menemani,
Dikala hujan turun melalui sudut mataku kala sedih melingkupi,
Hanya engkau yang mampu meredanya,

kata demi kata yang tersembunyi,
Kuberikan dan kucurahkan semuanya kepadamu, Hanya kepadamu,
Dan engkau,
Engkau mampu menerimanya dengan rasa haru,

Kala engkau bagi bahagiamu padaku,
Aku pun menerimanya dengan rasa yang tak menentu,
Dan mengenai apa yang sudah terpatri,
 bahagiamu, adalah bahagiaku,

Oh sahabat,
Tak dapat aku mengungkapkan rasaku,
Dan untuk yang terakhir kali,
Kuberi tahu kau satu hal yang sudah pasti,
Aku menyayangimu, 
Dan Akan selalu menyayangimu,hingga kini dan nanti.

Kertosono, 7 September 2018



Tema Keagamaan

Mari mengingat Mati
Oleh:ahlul ahsyamul isma


Angin dingin yang berhembus,
Tanah dingin yang tandus,
Percik air ,jiwa yang terbungkus,
Apa artinya untukmu?
Takutkah,sedihkah,ingatkah?
Kuyakin kau sama sekali tak takut,
Kuyakin kau sama sekali tak sedih,
Kuyakin kau sama sekali tak ingat,
Kenapa?
Pikirmu enggan menyapanya,
Pikirmu hanya terima dunia dan segala kemolekannya,
Jangankan pikir,
Sekelebat ingat pun kuyakin tidak,
Dan sama sekali tidak,
Lantas apa lagi?
Rasa cinta pada Rabb-mu telah hilang,
Berganti pada cinta dunia yang fatamorgana,
Wanita, harta, kuasa dunia,
Hanya ada rasa yang menggebu-gebu ingin memiliki semua,
Tak Ada lagi hasrat tuk mencari bekal  akhirat ,
Sama sekali tak ada,,
Lantas, apa yang akan kau bawa menuju ilahi,?
Hanya ruh yang belum sempat memantaskan diri,
Tak takutkah kau bila masamu datang tanpa diketahui,?
Atau mungkin kau hendak tertidur malam, lalu esoknya tak bangun lagi,?
Maka cukuplah ceritamu berakhir sampai disini,
Tak akan ada lagi hari-hari indah yang kan dilalui,
Hanya ada seonggok tulang , yang kian rapuh, dari hari ke hari,

Tema Keagamaan

Renungan Malam itu
                        (Ayo berfikir)
Oleh:Ahlul Ahsyamul Isma


Malam yang sunyi, angin berdesir pelan,
Langit tampak gelap gulita dengan titik-titik cahaya  bintang,
Aku termangu menatap indah sang bulan,
Terbesit dalam pikir bagaimana sang Rabb melukis langit malam ,
Begitu indah,
Hingga tiada daya bagi seorang insan untuk mencela,

Bagaimanakah dengan pikirmu?
Lantaskah telah membumbung tinggi hingga sampai ke sana?
Tuhan Yang Mulia, telah mencipta dengan segala rupa,
Alam semesta dan seisinya,
Langit hingga lapis ketujuh,
Yang berdiri kokoh menaungi bumi tanpa sebuahpun penyangga,
Bintang, bulan, dan matahari hingga semua saudara-saudaranya,
Begitupun juga engkau,
Allah beri tubuh yang sehat,
Jiwa yang kuat,
Rupa yang cantik, tampan,
Hingga kehidupan yang indah dan bahagia,
Maka masih pantaskah engkau lalai akan perintah-Nya,
perintah Allah adalah nyata,
Begitupun Syurga-Nya, Neraka-Nya, Rasul-Rasul hingga malaikat-malaikat-Nya ,
Semuanya adalah nyata,
Kehidupanmu adalah semata-mata pemberian-Nya,
Akupun demikian,
Tak hanya aku dan engkau, tapi kehidupan semua Mahluk Allah adalah pemberian-Nya,
Dari itu, mari tunjukkan diri menjadi muslim sejati,
Yang senantiasa bersyukur dengan apa yang ada pada diri,
Dan Yang akan tetap istiqomah, hingga akhir hayat nanti,


Tema Kehidupan

Rona sang gadis
Oleh: Ahlul Ahsyamul Isma

Terlihat gelisah pada mata yang meredup,
Menjelma menjadi gerak dari tubuh,
 meniti satu-demi-satu langkah kaki,
Perlahan,
desir angin dingin yang menyambut,
Pada pantai engkau bergolak,
Membungkam pikir namun sukma bergejolak,
Ini semua Perhelatan dari hati yang menjadi garang,
Hati yang mati akibat luka yang teramat dalam,
Sang gadis telah menjelma menjadi bunga yang layu,
Nyanyian kidung gagak mengalun,
Pecahan ombak membelah karang,
Sang gadis terbang jauh di awang-awang,
Bunga yang layu tersapu ombak,
Membawanya pada kejam samudra yang tiada ampun,


Tema Keagamaan

Sudahkah kuberkawan dengan iman?
Oleh : Ahlul Ahsyamul Isma

Apakah  yang menjadi sandaran,
Pabila pada diri kini sudah tiada lagi yang namanya iman,
Betapa kejamnya engkau wahai zaman,
Dengan kemolekanmu engkau buat lubang-lubang kesesatan,
Menjerat jiwa-jiwa menuju pada kemaksiatan,
Apakah diri kini telah berkawan?
Berkawan pada belenggu-belenggu bisikan setan,
Nafsu yang menggelora tiada dapat terkendalikan,
Segala urusan akhirat menjadi terabaikan,
Kemanakah sang kawan yang bernama iman,?
Apakah pada diri tiada pernah sekalipun  singgah bahkan berkawan,?
Sungguh celaka ,
Sungguh celaka,
Tidaklah dapat kelak terhindarkan,
Siksa yang teramat pedih sebab diri tak punya iman,

Dawuhan lor, 5 Desember 2018

Tema misteri

Sang Penunggu Pohon
Oleh: Ahlul Ahsyamul Isma

Bumbun nian pohon di belakang rumahku,
Akarnya besar mencuat menancap erat mengelana,
Mencari-cari sumber penghidupan yakni sang pelepas dahaga,
Setiap pagi menjelang,
Sapuku berarak mengikis dedaunan kering yang berselirak,
Konon kata orang-orang,
Pohon besarku adalah tempat tinggal segerombolan orang-orang tanah,
Pabila malam menjelang,
Suasana yang dingin, sepi,dan mencekam,
sinar sang purnama begitu terang hingga berpendar pada sang dedaunan,
Telisik nyanyian bambu mengalunkan irama lagu pada malam yang sendu,
Itu semua adalah pertanda segerombolan orang-orang tanah mencari mangsa,
Mereka akan keluar dari dalam tanah,
Merangkak, mengeram, meraung-raung hingga mencakar-cakar tanah,
Mereka akan memangsa, apapun yang dilihatnya,
Tidak terkecuali pun manusia,
Apakah itu semua memang betul-betul nyata adanya?
Huhh, kuyakin itu semua hanyalah omong kosong belaka.

Ig:@ahlulisma
Dawuhan lor, 5 Desember 2018

Tema : perjuangan
Lentera Harapan
                Oleh: Ahlul Ahsyamul Isma

Kutuliskan sebuah kisah tentang aku, engkau, dan kalian,
Yang melewati jalan yang berliku dengan tanpa titian,
Yang meraih seraup ilmu tuk menggenggam impian,
Agar tercapai secercah lentera harapan di masa depan,

Kita semua sama,
Sama-sama mempunyai angan-angan,
Yakni tuk raih sukses di masa depan,
Tapi kuharap, apa yang aku , engkau, dan kalian inginkan,
Pun diiringi do'a dan usaha yang sepadan,
Agar lekas tercapai apa yang dicita-citakan,

Ini semua tentang aku, engkau ,dan kalian,
Kuberi tahu kau agar jangan mudah melupakan,
Bahwa ingatlah perjuangan yang kita lakukan dengan penuh pengorbanan,
Hingga beralih kuingatkan pada masa-masa yang penuh kebersamaan,

Ini semua tentang aku, engkau, dan kalian,
Masa demi masa akan terus berjalan,
Maka bila aku, engkau, dan kalian telah menggapai apa yang diinginkan,
Kuberitahu sekali lagi agar jangan mudah melupakan,
Karna aku, engkau, dan kalian, sejatinya adalah kawan seperjuangan,,

Tema : Penghianatan
Topeng
         Oleh: Ahlul Ahsyamul Isma

Kutahu pada gerik yang membisu,
Namun dalam hati ia berkeriau,
Menyumpah serapah penuh dengan prasangka,
Tak pelak semua dapat terbaca hingga serpihan-serpihan kecilnya,
Sorot mata adalah kunci utamanya,
Pula dengan gerik juga lisan dengan alai-belai yang diucapnya,
Aduhai, betapa dikau anggap diri ini hanyalah abus,
Bagai seonggok sampah,
Terinjak terpijak, tak bernilai,
Sebab ku tak punya apa-apa,
Tapi ketahuilah, yang kupunya hanyalah hati yang mudah menerima,
Ikhlas terhadap apapun segala ketentuan-Nya
Masih kurangkah baikku hingga kini seluruhnya?
Tak apa, sungguhlah tak apa,
Sebab kutahu bahwa sabar adalah salah satu kunci surga-Nya,

Tema : Cinta (cihuy 😗)
Desau Angin
             Oleh : Ahlul Ahsyamul Isma

Kutanya pada angin yang mendesau,
Apakah penyebab hati yang berkeriau,
Namun, ia tetap bersikukuh dalam kebisuan,
Mencipta alai-belai yang membuai pelan,
Kemudian kenyataan membelungsing hingga menyebabkan sakit tak tertahankan,
Kupikir ini hanyalah anca yang melintang,
Namun pada kenyataan begitu menyakitkan,
Nyatanya engkau begitu jauh,
Seperti halnya daku adalah pungguk yang merindukan bulan,
Seberapapun  daku berkeriau memanggil  sang bulan,
Tak pelak hingga terputus pita suara, engkau tiada pernah akan ada dalam pelukan,
kini kutahu engkau bukanlah sang bulan yang masih bisa kupandang kala dipenghujung petang,
Dan kini masih kucari-cari jawaban hingga daku patah arang,
Pada kenyataan, Bahwasanya Engkau adalah desau angin itu sendiri yang mana takkan pernah mungkin bisa kujamah bahkan kupandang,
Karena daku teramat rapuh bagai sehelai benang,
Kuusahakan Semua tentangmu yang terngiang Akan selamanya terbuang,
Hanya tinggal menanti kapankah waktu akan membuat sekerat memori tentangmu akan usang.

Tema : Kehidupan
Mayapada
          Oleh : Ahlul Ahsyamul Isma
Terik yang seakan mencakari sukma,
Bahana berserakan dimana-mana,
Meneriaki pemberi harapan tak takkan pernah sirna,
Aku berjalan ditengah-tengah mereka,
Kala surya melesat melengkung hening mengambang di atas kepala,
Kulihat bapak sepuh bernaung di bawah bayang-bayang becak yang telah usang,
Ia bersikukuh memeluk erat tubuh serta lulut kakinya yang ringkih,
Betapa musim silih berganti telah setia membersamainya,
Membuat tubuhnya gosong terbakar panas penderitaan yang dilaluinya,
Nampak sang istri yang menata bongkol  pada gelangsing tuk dibawanya kembali pada persinggahan,
Mereka telah usai,
Usai mengais-ngais rezeki sebagai syarat tuk hidup di jengkal mayapada,
Duhai mayapada,
Engkau adalah yang terelok bagi siapa yang menikmati,
Namun bagi orang kecil macam kami,
Dikau teramat keras tuk dijalani,

Tema : Kehidupan

Pasar Malam
Oleh : Ahlul Ahsyamul Isma

Sekuntum bunga yang mekar bersemi pada diri,
Menggebu mengajak menggerak langkah tuk pergi,
Tersebab lekas teringin rasakan kebersamaan yang mungkin takkan terulang lagi,
Kerlap-kerlip lampu penuh warna-warni,
Teriakan bahana sang penarik pembeli,
Pun juga ragam wahana yang mengikat menarik mata tuk mengamati,
Semua itu adalah tersebab sekuntum bunga tumbuh dari dalam diri,
Banyangan perihal derai tawa, sekonyong-konyong canda,alunan-alunan kidung persahabatan, hingga peluk erat kasih sayang membuai di dalam sanubari,
Semua itu sungguh teramat lekas ingin kunikmati,
Bersama kalian, wahai permata-permata yang teramat kusayangi,
Denting demi denting waktu terus berlari,
Maka dengan berbekal kemantaban hati,
Kumencoba beranikan diri menjemput izin pada bunda pertiwi,
"Oh bunda,"
"Sungguh kuteramat ingin,"
"Sungguh kuteramat ingin,"
Rengekku kala itu kerana sesungguhnya kuteramat ingin tuk pergi,
"Maka berilah izin daku tuk pergi,"
"Sekali ini izinkan daku tuk pergi,"
"Tak usahlah khawatirkan putri kecilmu ini bunda,"
"Kupergi tak sendiri,"
"Namun bersama mereka, permata-permata yang kumiliki,"
"Lagi teramat kusayangi,"

Tema : Cinta (cihuy 😗)

Tirai hujan
Oleh : Ahlul Ahsyamul Isma

Aku melongok dari jendela..
Kepalaku tersembul mengenai beribu-ribu tirai hujan..
Cepat-cepat kumasukkan lagi kepalaku yang basah..

Kutatap tirai hujan..
Masih menggelayut-menggelayut manja sejauh mata memandang..
Sebuah siluet tergugu menengadah diantara tirai-tirai hujan..
Menahan tangis dengan isakan tertahan..
Dengan bahu bergetar terkulai lemah diantara tirai hujan..

Betapa pilu hatiku memandanginya..
Lekas-lekas kuhampiri ia dengan payung hitam ditangan..
Saat kutatap, betapa elok nian wajah cantik rupawan..
Mata sayu secantik rembulan menahan isakan..

Hatiku kian tersayat saat memandanginya..
Lekas-lekas kuulurkan tangan..
Betapa girang uluran tanganku terbalaskan..

Seulas senyum merekah, lolos dari pandangan..
Senyumanku, senyuman pria sejati..
Segera kurengkuh ia dalam pelukan..

Dengan isakan tertahan,
Ia tumpahkan keluh kesah sebuah rantai derita kehidupan..

Betapa pilu hatiku mendengarnya..
Tentang derita seorang wanita,
Derita wanita yang tercampakkan,
Derita wanita yang terabaikan,
Derita wanita yang tersakiti,
Dari seorang pria yang dicintainya teramat dalam..

Tega nian pria itu menyakiti wanita secantik rembulan..
Dengan isakan tertahan,
Ia tenggelam dalam pelukan..
Hingga tercipta sebuah kehangatan, dibalik derasnya tirai hujan..

Tirai hujan..
Kau pertemukan dua insan tuhan dalam sebuah pelukan..
Hingga terbentuklah sebuah ikatan..
Kini sudah tak dapat lagi terelakkan..
Karena ikatan takdir sudah mempertemukan..

Dawuhan lor.
24-january-2018

Tema : Kehidupan

Derita si tua bangka
Oleh : Ahlul Ahsyamul Isma

Butir-butir debu menguar ke udara..
Terik matahari menyengat apapun disekitarnya..
Seorang tua bangka berjalan tertatih dengan beban dipunggungnya..
Sesekali menyeka peluh yang mengalir dari pelipisnya..
Berjalan tertatih karena faktor usia..
Butir-butir debu menguar ke udara..
Terik matahari menyengat apapun disekitarnya..
Seorang tua bangka duduk bersila dengan palu ditangannya..
Dihadapannya mengalir sungai dengan batu sebagai airnya..
Dengan palu ditangannya,
Ia pukul batu sekeras hati anak-cicitnya..
Dengan derita batinnya,
Ia pukul batu sekuat tenaganya
Nafasnya terengah-engah, merintih meratapi nasibnya..
Hingga tanpa sengaja,
Muncratan kepingan batu masuk kedalam pelupuk matanya..
Segera rasa perih menjalari kedua penglihatannya..
Kini bertambah sudah derita hidupnya..

Butir-butir debu menguar ke udara..
Terik matahari menyengat apapun di sekitarnya..
Si tua bangka kehilangan harta paling berharga dalam hidupnya..
Kini siapakah yang akan menghidupi dirinya yang renta serta buta??
Sedangkan anak-cicit sudah jauh pergi entah kemana.

Tema : Kehidupan

Merindukan hujan
Oleh: Ahlul Ahsyamul Isma

Hari-hari hanya melulu mengenai terik matahari,
Setiap panas hari menjelang, peluh selalu membasahi,
sesekali mendung bergelayut namun lekas itu pergi lagi,
kulihat betapa telah kering pohon belimbing depan rumah sendiri,
 buahnya mengerut tidak segar sama sekali,
Kali pun turut bersedih hati, airnya kering kerontang hinga menyebabkan ikan ikan pada mati,
Terbesit dalam pikir, betapa senang hati bila rintik datang kembali,
Suara kodok yang bersahutan membetuk simfoni yang menenangkan hati,.
Hawa hawa dingin yang membuat nyenyak pada tidur di malam hari,
Tawa riang bocah bocah yang bermandikan rintik di siang hari,
Bunga bunga yang mekar berwarna-warni,
Duhai rintik, engkau senantiasa kudamba dari hari ke hari,
Yang membuat angan bersemi,
Dan lekaslah sirami rindu dan keringnya bumi pertiwi,

Tema : Keagamaan

Arus
Oleh : Ahlul Ahsyamul Isma

Kemanakah, kemanakah langkah kaki akan terbawa, akankah mengikuti arus?
 Jangan, dan sekalipun jangan,
Sebab sesungguhnya arus saat ini begitu banyak yang menyesatkan,
 yang dilarang  diperbolehkan begitupun sebaliknya,
jalan ini begitu penuh liku, berkelok-kelok, sedikit salah langkah pun akan terjengkang, begitu menyeramkan,
Dan takkah kau lihat, bahwa arus saat ini banyak yang berbelok-belok, bercabang-cabang, sungguh celaka bagi dia yang tak pandai-pandai menjaga diri.
Sungguh celaka bagi dia yang tak punya iman,
Dan kemanakah arus yang menuju pada kebaikan,
Dan kini yang kulihat hanyalah sekelumit,
 yang banyak adalah arus keburukan yang membawa jiwa-jiwa menuju kesesatan.

Tema : Cinta

Jangan Lagi
Oleh : Ahlul Ahsyamul Isma

Angin yang berhembus menilik sepi,
Mengapa timbul sebuah kata yang membebani hati,
Menghentikan laju pikir yang seharusnya terjadi,
Bercokol pada pikir yang tak henti-henti,
Diri ini sungguh tak menginginkan ini terjadi,
Sama sekali tak ingin,
Pikirku, ini semua salahmu,
Salahmu karna lakumu yang tidak seharusnya padaku,
Dan kuharap kau berhenti,
Karena ku tak ingin rasa ini semakin menjadi,
Hingga timbul sebuah rasa yang menyakiti.

Tema : sakit
Tersiksa rasa
Oleh : Ahlul Ahsyamul Isma

Rasa ini, pernah kurasakan sebelumnya.
Membuat pening pada kepala,
Serta membuat tubuh menggigil akibat panas dingin
Rasa yang menyiksa yang mana telah membuatku serasa sulit tuk bernafas.
Air terus mengalir,
Namun tiada daya diriku tuk menghentikannya.
 Bening, laksana sumber air yang begitu jernih mengalir dari sumber yang paling dasar.
Pun sudut mata ini rasanya ingin menangis,
Namun diri sudah terlalu besar tuk lakukannya
Sebab ini adalah perihal rasa yang menyumbat pernafasan
Yakni aku sedang dilanda pilek.

Tema : Kehidupan

Sayap-sayap Patah
Oleh : Ahlul Ahsyamul Isma

Dan kini tak ada yang lebih sakit daripada seekor burung kecil yang patah sayapnya,
Ia sembunyikan jeritnya pada tebing yang curam,
Tanpa gema, hening dan sepi melanda,
Ia sendiri,
tanpa induk disampingnya
Meniti pada jalan garis keras hidup pada jengkal mayapada,
Dan kini tengah mengadu nasib pada ujung tebing dibawahnya terdapat jurang yang menganga,
Berharap sang angin mau berbaik hati tak mengikis dirinya yang tak berdaya,
Burung kecil yang malang,
Tak tahu lagi harus berbuat apa,
Maka ia bertanya kepada sang angin,
"Apa yang harus kuperbuat wahai angin? Sayapku yang berharga telah patah,
dan kini hidupku tak bermakna?
Sendiri ini menusuk diri,
Dengan sayap-sayap patah penghancur mimpi,
Aku merasa tidak berdaya "
Kemudian angin mengumandangkan tuturnya,
"Apakah hanya dengan ini kamu merasa tidak berdaya?
Lalu untuk apa sukma yang masih menancap pada raga?
Apakah itu tidak lebih berharga?"
Seketika burung kecil mengalirkan tangis,
Ia pandangi kedua kakinya,
Ia rasakan hembus nafasnya,
Ia dengar degup jantungnya,
Dan apa yang didapatnya?
Adalah kini ia menyadari bahwa masih hidup adalah yang paling berharga,
Dan kini nasib hidup tergantung oleh kegigihannya,
Serta satu hal yang pasti yang diyakininya
Bahwa sesulit apapun masalah yang menimpa,
Akan selalu ada penyelesaiannya.
Maka kini ia senandungkan terima kasih kepada angin,
Karenanya, ia tahu bahwa Tuhan tidak bermaksud menyulitkan hambanya,
Melainkan memberinya kekuatan,
 Agar terus hidup pada kejamnya mayapada yang tak akan pernah ada habisnya.




Komentar